Padang Panjang(SUMBAR).GP- Menyongsong peringatan satu abad gempa besar 1926, tim gabungan dari berbagai unsur melakukan penelusuran terhadap bangunan-bangunan bersejarah tahan gempa di Kota Padang Panjang, Minggu (3/5/2026).
Kegiatan ini menjadi bagian penting dalam upaya menggali jejak ketangguhan konstruksi masa lalu sekaligus memperkuat kesadaran mitigasi bencana di masa kini.
Penelusuran diawali dari salah satu rumah warga yang berada di sekitar Kantor Wali Kota Padang Panjang.
Selanjutnya, tim bergerak menuju kawasan Perguruan Diniyah Puteri, salah satu institusi pendidikan bersejarah yang menyimpan catatan penting terkait dampak gempa dahsyat hampir seabad silam.
Tim ini dipimpin oleh pakar geologi Sumatera Barat, Ir. Ade Edward, serta melibatkan akademisi dari Universitas Tamansiswa Padang, organisasi kebencanaan Alpha Rescue, PJKIP Padang Panjang, dan sejumlah tokoh masyarakat dari kawasan Padang Panjang, Batipuh, dan X Koto.
“Hari ini kita berada di Diniyah Puteri Padang Panjang. Alhamdulillah, kehadiran kita disambut oleh Wakil Ketua Yayasan, Fauzi Fauzan El Muhammady. Kita memperoleh banyak informasi terkait bangunan asrama dan ruang belajar yang dibangun sebelum dan sesudah gempa 1926,” ujar Ade Edward di sela kegiatan.
Ia menjelaskan, berdasarkan data historis, gempa kembar yang terjadi pada 28 Juni 1926 telah meluluhlantakkan sekitar 80 persen bangunan di Padang Panjang dan sekitarnya, termasuk asrama Diniyah Puteri yang saat itu baru berdiri beberapa tahun sebelumnya.
“Bangunan asrama tersebut hancur akibat gempa besar itu. Peristiwa ini menjadi salah satu catatan penting dalam sejarah kebencanaan di Sumatera Barat,” ungkapnya.
Sementara itu, Wakil Ketua Yayasan Diniyah Puteri, Fauzi Fauzan El Muhammady, menuturkan bahwa asrama yang terdampak gempa tersebut awalnya dibangun pada 1923. Pasca-bencana, bangunan itu didirikan kembali dengan konstruksi yang lebih adaptif terhadap risiko gempa.
“Asrama ini dibangun ulang setelah gempa 1926 dengan konsep konstruksi yang lebih tahan gempa.
Sementara itu, beberapa bangunan yang tidak roboh saat gempa, seperti rumah yang kini difungsikan sebagai Museum Rahmah Elyunusiyah, masih berdiri hingga sekarang. Bahkan, ruang belajar pertama juga relatif tidak banyak mengalami perubahan,” jelas Fauzi.
Lebih lanjut, Fauzi juga menyampaikan dukungannya terhadap penguatan kapasitas kesiapsiagaan bencana di lingkungan pendidikan. Ia menyambut baik rencana pelaksanaan simulasi evakuasi gempa sebagai bagian dari program Madrasah Siaga Bencana yang telah dibentuk sebelumnya.
“Kami terbuka untuk menjadi tuan rumah gladi lapangan simulasi evakuasi gempa. Nanti akan kami koordinasikan lebih lanjut dengan tim Alpha Rescue,” ujarnya.
Kegiatan penelusuran ini tidak hanya menjadi refleksi sejarah, tetapi juga langkah strategis dalam membangun kesadaran kolektif akan pentingnya konstruksi aman dan kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana di masa depan.
#GP | ***






Tidak ada komentar:
Posting Komentar