AHOK TEGAS TANPA RAGU: PENGADAAN CHROMEBOOK ADALAH KEBIJAKAN SANGAT MASUK AKAL SECARA LOGIKA - Go Parlement | Portal Berita

AHOK TEGAS TANPA RAGU: PENGADAAN CHROMEBOOK ADALAH KEBIJAKAN SANGAT MASUK AKAL SECARA LOGIKA

Senin, Mei 18, 2026

"Kalau Saya Jadi Mendikbud, Saya Pasti Pilih Chromebook Juga!" – Basuki Tjahaja Purnama



Padang(SUMBAR).GP– Ahok bilang dengan sangat tegas: pengadaan Chromebook itu sebenarnya adalah kebijakan yang sangat masuk akal secara logika.


Chromebook itu bukan laptop biasa. Operating system-nya berbasis cloud sekali beli langsung include semuanya, tidak perlu diperbarui terus-menerus.


Harganya jauh lebih terjangkau dari laptop konvensional. Dan yg paling penting sistemnya dirancang agar anak tidak bisa nonton video porno, tidak bisa judi online, dan seluruh aktivitas belajar bisa dipantau.


Ahok kasih contoh nyata.

Ada guru di Jawa Barat yang punya empat sertifikat internasional bisa mengajar di level dunia. Ujiannya hanya 10 dolar.


Bayangkan kalau semua guru Indonesia bisa akses sertifikasi seperti itu lewat Chromebook yang terhubung Starlink di daerah terpencil anak di kampung tiba-tiba bisa belajar setara dengan anak di Kanada atau Australia.


Itu bukan mimpi.

Itu sudah bisa dilakukan sekarang dengan teknologi yang ada.


"Bayangin kalau semua anak kita di kampung ada Starlink juga kan.


Anak di kampung kita tiba-tiba belajar setara dengan orang di Kanada atau di Amerika atau di Australia."


Lalu kenapa Ahok merasa ini sengaja karena takut diproses hukum lagi tapi dia tetap bilang:


"Saya pikir ini sengaja."


Logikanya sederhana dan sangat keras.

Kalau rakyat pintar, rakyat kritis, rakyat bisa akses informasi dari mana saja mereka lebih sulit dikuasai.


Lebih sulit dibohongi.

Lebih sulit dimanipulasi menjelang pemilu.


Sistem yang membiarkan rakyat bodoh dan miskin adalah sistem yg menguntungkan mereka yang berkuasa.


Karena rakyat yg bodoh dan miskin lebih mudah disuap dengan sembako, lebih mudah digiring dengan hoaks, lebih mudah dikontrol dengan ketergantungan pada program-program yg terkesan murah hati tapi tidak memberdayakan.


MBG- makan bergizi gratis menurut Ahok adalah contoh dari cara berpikir yg sama. Daripada kasih rakyat laptop yang bisa membuka pintu dunia, lebih mudah kasih makanan yg habis dimakan dan orang tetap tergantung besok makannya dari mana.


"Kalau saya tanya mau bikin sekolah bagus, kasih makan bergizi atau rakyat punya laptop yang bisa komunikasi ke mana-mana?"


Yang paling menohok soal survei dan legitimasi:

Ahok tidak berhenti di situ.


Dia lanjutkan dengan sesuatu yang sangat pedas.


Pemerintah melakukan survei.


Rakyat bilang mereka suka makanan gratis.


Lalu itu dijadikan legitimasi untuk program MBG.


Ahok berkata dengan sangat tegas: Pengadaan Chromebook sebenarnya adalah kebijakan yang sangat masuk akal secara logika.

 

Chromebook itu bukan laptop biasa. Sistem operasinya berbasis awan, sekali beli sudah lengkap semua fasilitasnya, dan tidak perlu diperbarui terus-menerus. Harganya pun jauh lebih murah dibandingkan laptop biasa. Dan yang paling penting, sistem ini dirancang aman: anak-anak tidak bisa mengakses konten porno, tidak bisa main judi daring, serta seluruh aktivitas belajar dapat dipantau dan dikendalikan.

 

Ahok memberikan contoh nyata:

Ada guru di Jawa Barat yang memiliki empat sertifikat pendidik internasional, sehingga mampu mengajar setara standar dunia. Biaya ujiannya hanya sekitar 10 Dolar AS. Bayangkan jika seluruh guru di Indonesia bisa memiliki kualifikasi serupa, serta terhubung dengan jaringan internet seperti Starlink hingga ke pelosok desa. Maka anak-anak di kampung pun tiba-tiba bisa belajar ilmu setara anak-anak di Kanada, Amerika, atau Australia. Itu bukan mimpi, melainkan sesuatu yang sudah bisa dilakukan sekarang.

 

"Bayangkan kalau anak-anak kita di kampung terhubung Starlink juga. Mereka bisa belajar setara dengan orang di luar negeri," tegas Ahok.

 

Lebih jauh, Ahok menilai bahwa penolakan dan pemersoalan proyek ini bukan tanpa alasan, melainkan sesuatu yang disengaja.

 

Logikanya sederhana namun keras:

Jika rakyat pintar, kritis, dan bebas mengakses informasi, maka mereka akan lebih sulit dikuasai, sulit dibohongi, dan sulit dimanipulasi, apalagi menjelang pemilu.

 

Sistem yang membiarkan rakyat tetap bodoh dan miskin, justru adalah sistem yang paling menguntungkan bagi para penguasa. Sebab rakyat yang bodoh dan miskin jauh lebih mudah disuap dengan sembako, mudah digiring oleh berita bohong, serta mudah dikendalikan lewat ketergantungan pada bantuan sosial yang terlihat murah hati, namun sesungguhnya tidak memberdayakan.

 

Menurut Ahok, program Makan Bergizi Gratis (MBG) adalah satu contoh pola pikir yang sama. Pemerintah lebih memilih memberi makanan yang habis sekali dimakan, sehingga rakyat tetap bergantung pada bantuan esok hari, dibandingkan memberi alat pengetahuan yang membuka gerbang dunia selamanya.

 

"Kalau ditanya, mau buat sekolah bagus, beri makan gratis, atau berikan laptop agar bisa berkomunikasi ke mana saja? Pilihan ini menentukan masa depan bangsa," kata Ahok.

 

Hal yang paling menyentil hati adalah soal survei yang dijadikan alasan.

Pemerintah melakukan survei, rakyat menyatakan menyukai makanan gratis, lalu hal itu dijadikan dasar dan legitimasi program MBG. Seolah-olah apa yang diminta rakyat adalah yang terbaik bagi mereka.

 

Namun Ahok membalikkan pandangan itu.

"Jika seseorang tidak pernah tahu bahwa ada pilihan yang jauh lebih baik dan besar manfaatnya, tentu mereka hanya akan memilih apa yang ada di depan mata saja. Itu bukan keinginan murni, melainkan keterbatasan informasi yang dipakai sebagai alasan pembenaran."

 

"Mereka juga pintar. Lakukan survei, rakyat suka makanan, lalu jadikan itu alasan sah," sindir Ahok.

 

Mengenai kasus mantan Mendikbud Nadiem Makarim yang kini diancam hukuman 27 tahun penjara, Ahok tidak membela secara pribadi, namun melontarkan logika yang sulit dibantah:

 

Seorang Menteri tidak pernah memegang atau mengelola uang negara secara langsung.

Menteri bertugas membuat kebijakan, sedangkan pelaksanaannya ada di tangan birokrasi di bawahnya. Jika ada kesalahan dalam pelaksanaan, pertanyaannya harus: Apakah menteri yang memerintahkan penyimpangan secara gamblang? Apakah ada aliran uang yang terbukti masuk ke kantong menteri?

 

Berdasarkan data PPATK, jawabannya adalah TIDAK ADA. Nol rupiah pun.

 

"Ini soal profesionalisme. Menteri itu tidak menyentuh aliran anggaran, kecuali dia memerintahkan atau menerima uangnya," tegasnya.


Ahok menegaskan, ini bukan sekadar perdebatan tentang alat atau benda. Ini adalah pilihan mendasar bagi sebuah bangsa:


Apakah kita ingin membangun rakyat yang cerdas, berilmu, dan mandiri? Atau mempertahankan sistem di mana rakyat tetap bergantung pada belas kasihan penguasa?

 

MBG memberi kenyang hari ini. Chromebook mampu mengubah nasib seumur hidup.

Dan ketika kebijakan yang mengubah nasib dipersoalkan secara hukum, sementara program yang bersifat sesaat dirayakan sebagai prestasi, itu bukan kebetulan. Itu adalah pilihan yang disengaja oleh mereka yang paling diuntungkan jika rakyat tetap tidak berdaya.


#GP | Ce | Sumber: Podcast Curhat Bang Denny Sumargo (Rilis: 7–16 Mei 2026), Dikutip: Poros Jakarta, Pojoksatu.id.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

JMSI

Pages

SELAMAT DATANG DI SEMOGA ANDA PUAS