Dulu Hadir di Pernikahan dan Duka, Kini Hilang: Kisah Ambulans yang Berubah Jadi Kursi Dewan - Go Parlement | Portal Berita

Dulu Hadir di Pernikahan dan Duka, Kini Hilang: Kisah Ambulans yang Berubah Jadi Kursi Dewan

Selasa, April 21, 2026

 


GOPARLEMENT.COM- Di sebuah kota kecil, ada seorang pria yang dulu dikenal sangat sederhana. Ia bukan orang kaya raya, pun bukan tokoh besar. Awal langkahnya justru dimulai dari sesuatu yang dianggap sepele oleh banyak orang—sebuah mobil bekas yang ia sulap menjadi ambulans.

 

Mobil itu bukan sekadar besi tua yang berjalan. Ia gunakan untuk membantu siapa saja, mengantar orang sakit ke rumah sakit, membawa jenazah ke peristirahatan terakhir, bahkan seringkali tanpa meminta bayaran sepeser pun. Dari situlah namanya mulai harum. Bukan karena jabatan, tapi karena ketulusan dan kepedulian.

 

Hari demi hari, ia semakin dekat dengan rakyat. Ia tak sungkan datang ke rumah-rumah warga. Dulu, hampir setiap acara pernikahan ada dirinya, ikut bersuka cita. Saat ada yang sakit keras, ia yang pertama kali datang membesuk. Ketika ada duka, ia pun hadir melayat, ikut merasakan kesedihan bersama keluarga yang ditinggalkan.

 

Ia sering duduk di warung kopi, bercengkrama tanpa jarak, seolah tak ada beda antara dia dan orang biasa. Kadang membawa bantuan beras, kadang sekadar menjadi pendengar setia atas keluh kesah warga. Orang-orang mulai percaya, "Ini orang benar-benar peduli."

 

Kepercayaan itu akhirnya mengantarkannya maju dalam kontestasi politik. Ia mencalonkan diri menjadi anggota dewan, dan tak disangka, rakyat memberinya kemenangan.

 

Di periode pertama, ia masih sosok yang sama. Masih sering turun ke lapangan, masih duduk satu meja dengan kawan-kawan lama di warung sederhana. Ia tetap berbagi, tetap hadir di tengah masyarakat. Rakyat merasa tidak salah menaruh harapan.

 

Ketika masa jabatan periode pertama hampir usai, ia masih terlihat hangat. Itulah sebabnya, rakyat kembali mempercayainya untuk periode kedua. Semua berharap, ia akan tetap menjadi sosok yang sama seperti dulu.

 

"Namun, waktu perlahan mengubah segalanya!"

Memasuki tahun pertama periode keduanya, perubahan itu mulai terasa. Ia mulai jarang terlihat di tempat-tempat biasa. Warung kopi yang dulu menjadi saksi kebersamaan kini hanya menyisakan cerita. Teman-teman lama mulai saling bertanya,

 

"Ke mana beliau sekarang?"

Yang dulu tak pernah absen di undangan pernikahan, kini hampir tak pernah lagi terlihat. Yang dulu rajin membesuk orang sakit dan melayat, kini sosoknya sulit ditemui.

 

Tak ada lagi obrolan santai, tak ada lagi kehadiran yang meneduhkan. Bantuan pun terasa semakin jarang. Bahkan untuk sekadar menyapa, ia seolah memasang tembok jarak.

 

Orang-orang mulai merasa asing dengan sosok yang dulu begitu dekat.

 

Sebagian berkata, mungkin ia terlalu sibuk dengan urusan kantor.

Sebagian lain berbisik, mungkin jabatan telah mengubah hatinya.

 

Namun pertanyaan yang paling sering bergema di hati masyarakat justru sederhana

 

Apa yang sebenarnya ada dalam pikirannya sekarang?

 

Apakah kursi dewan telah mengubah cara pandangnya?


Ataukah ia perlahan lupa, dari mana dan bermodal apa ia memulai segalanya?

 

Tak ada yang benar-benar tahu jawabannya.

 

Yang pasti, rakyat masih mengingat satu hal dengan jelas

"bahwa dulu, semua ini bermula dari sebuah ambulans bekas, dan hati yang tulus yang tak pernah lelah membantu".


#GP | ***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

JMSI

Pages

SELAMAT DATANG DI SEMOGA ANDA PUAS