Penulis
Prof. Dr. Khairuddin.,M.Kes.,AIFO Kepakaran Bidang Ilmu “Pendidikan Olahraga dan Kesehatan
Padang (SUMBAR).GP - Olahraga teratur merupakan aktivitas fisik yang dilakukan secara rutin dan berkesinambungan untuk menjaga kesehatan tubuh dan mental. Menurut World Health Organization (WHO), olahraga teratur adalah kunci utama dalam pencegahan penyakit tidak menular dan peningkatan kualitas hidup. Contohnya, berjalan kaki 30 menit setiap pagi sudah termasuk olahraga teratur yang mudah dilakukan oleh semua kalangan (WHO, 2020).
Sharkey (2011) menjelaskan bahwa olahraga teratur membantu tubuh beradaptasi terhadap beban fisik sehingga sistem organ bekerja lebih efisien. Tubuh yang sering bergerak akan memiliki daya tahan lebih baik dibandingkan tubuh yang pasif. Contohnya, seseorang yang rutin bersepeda akan merasa lebih ringan saat melakukan aktivitas harian dibandingkan yang jarang bergerak (Sharkey, 2011).
Dari sisi kebugaran jasmani, Bompa & Haff (2009) menyatakan bahwa latihan fisik yang dilakukan secara teratur mampu meningkatkan kekuatan, daya tahan, kelenturan, dan koordinasi tubuh. Contohnya, latihan jogging tiga kali seminggu dapat meningkatkan daya tahan jantung dan paru-paru secara signifikan. Olahraga teratur juga berperan penting dalam menjaga kesehatan jantung.
Menurut American Heart Association (2019), aktivitas aerobik rutin dapat menurunkan risiko penyakit jantung koroner. Contohnya, senam aerobik atau berenang secara rutin membantu menjaga tekanan darah tetap stabil.
Dalam pengendalian berat badan, olahraga teratur membantu pembakaran kalori dan meningkatkan metabolisme tubuh.
Hill dan Wyatt (2013) menyebutkan bahwa kombinasi olahraga dan pola makan sehat efektif mencegah obesitas. Contohnya, latihan jalan cepat setiap sore dapat membantu mengontrol berat badan. Olahraga juga memperkuat otot dan tulang. Menurut McArdle, Katch, & Katch (2015), latihan beban dan aktivitas menahan berat badan mampu meningkatkan kepadatan tulang. Contohnya, latihan squat atau naik-turun tangga dapat mencegah osteoporosis sejak dini.
Manfaat olahraga tidak hanya fisik, tetapi juga mental. Ratey (2008) menjelaskan bahwa olahraga merangsang produksi endorfin yang dapat meningkatkan perasaan bahagia. Contohnya, seseorang yang rutin berolahraga biasanya merasa lebih rileks dan jarang mengalami stress.American Psychological Association (APA, 2018) menyatakan bahwa olahraga teratur efektif dalam mengurangi kecemasan dan depresi ringan hingga sedang. Contohnya, yoga atau jalan santai di pagi hari dapat membantu menenangkan pikiran.
Olahraga juga berdampak positif terhadap kualitas tidur. Menurut Harvard Medical School (2020), aktivitas fisik teratur membantu seseorang tidur lebih nyenyak. Contohnya, orang yang rutin berolahraga sore hari cenderung lebih mudah tertidur di malam hari.
Dari aspek energi, Powers & Howley (2018) menjelaskan bahwa olahraga meningkatkan efisiensi penggunaan oksigen oleh tubuh. Contohnya, pekerja yang rutin berolahraga tidak mudah lelah saat bekerja seharian. Olahraga teratur juga meningkatkan konsentrasi dan fokus. Hillman et al. (2008) menemukan bahwa aktivitas fisik meningkatkan aliran darah ke otak. Contohnya, siswa yang aktif bergerak lebih fokus saat mengikuti pelajaran di kelas.
Dalam jangka panjang, olahraga membantu menjaga fungsi kognitif. Erickson et al. (2011) menyatakan bahwa aktivitas fisik rutin dapat menurunkan risiko penurunan daya ingat. Contohnya, lansia yang rutin senam memiliki daya ingat lebih baik. Olahraga juga berperan dalam mengendalikan stres.
Menurut Selye (1976), olahraga membantu tubuh mengelola respons stres secara positif. Contohnya, berlari ringan dapat menjadi sarana pelepas ketegangan setelah bekerja.
Dari sisi kepercayaan diri, Fox (2000) menjelaskan bahwa olahraga meningkatkan citra diri dan rasa percaya diri. Contohnya, seseorang yang berhasil mencapai target kebugaran merasa lebih yakin terhadap kemampuan dirinya. Olahraga teratur juga berdampak pada hubungan sosial. Coalter (2007) menyatakan bahwa olahraga kelompok memperkuat interaksi sosial. Contohnya, senam bersama di lingkungan RT meningkatkan kebersamaan warga.
Dalam konteks pendidikan, Siedentop (2011) menekankan pentingnya olahraga teratur dalam pembentukan karakter siswa. Contohnya, kegiatan Olahraga di sekolah menanamkan disiplin dan sportivitas. Kementerian Kesehatan RI (2022) menyebutkan bahwa olahraga teratur merupakan pilar utama Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (GERMAS). Contohnya, program jalan sehat massal di masyarakat mendorong budaya aktif.
Meski manfaatnya besar, konsistensi olahraga sering menjadi tantangan. Menurut Dishman (1994), motivasi dan dukungan lingkungan sangat menentukan keberlanjutan olahraga. Contohnya, berolahraga bersama teman membuat aktivitas lebih menyenangkan.
Secara keseluruhan, olahraga teratur memberikan manfaat holistik bagi tubuh dan pikiran. Biddle & Mutrie (2008) menegaskan bahwa aktivitas fisik adalah investasi kesehatan jangka panjang. Contohnya, orang yang aktif bergerak cenderung memiliki kualitas hidup lebih baik.
Kesimpulan
Olahraga teratur terbukti memberikan manfaat menyeluruh bagi kesehatan fisik dan mental. Dengan melakukan aktivitas fisik secara konsisten, seseorang dapat meningkatkan kebugaran tubuh, menjaga kesehatan mental, serta meningkatkan kualitas hidup. Oleh karena itu, olahraga perlu dijadikan bagian dari gaya hidup sehari-hari.
Daftar Pustaka
American Heart Association. (2019). Physical Activity Guidelines.
American Psychological Association. (2018). Exercise and Mental Health.
Biddle, S. J. H., & Mutrie, N. (2008). Psychology of Physical Activity.
Bompa, T., & Haff, G. (2009). Periodization.
Coalter, F. (2007). A Wider Social Role for Sport.
Dishman, R. K. (1994). Advances in Exercise Adherence.
Erickson, K. I., et al. (2011). Exercise Training and Brain Health.
Fox, K. R. (2000). Self-esteem and Exercise.
Hill, J. O., & Wyatt, H. R. (2013). Role of Physical Activity in Weight Control.
Hillman, C. H., et al. (2008). Exercise and Cognitive Function.
Kementerian Kesehatan RI. (2022). Pedoman GERMAS.
McArdle, W., Katch, F., & Katch, V. (2015). Exercise Physiology.
Powers, S. K., & Howley, E. T. (2018). Exercise Physiology.
Ratey, J. J. (2008). Spark: The Revolutionary New Science of Exercise and the Brain.
Sharkey, B. J. (2011). Fitness and Health.
WHO. (2020). Guidelines on Physical Activity and Sedentary Behaviour.
#Padang | 27 Januari 2026.






Tidak ada komentar:
Posting Komentar