Belajar dari Seabad Gempa 1926, PVMBG Dorong Padang Panjang Menjadi Kota Siaga Bencana - Go Parlement | Portal Berita

Belajar dari Seabad Gempa 1926, PVMBG Dorong Padang Panjang Menjadi Kota Siaga Bencana

Selasa, Juni 30, 2026

 




Padang Panjang(SUMBAR).GP– Tepat satu abad setelah gempa bumi dahsyat mengguncang Padang Panjang pada 28 Juni 1926, pesan yang disampaikan oleh Wakil Mentri Sumber Daya Alam (SDM) Ir. Yuliot Tanjung, MM, melalui Dr. Lana Saria, S.Si , M.Si sebagai narasumber seminar internasional dari Staf ahli bidang ekonomi SDM Republik Indonesia dengan para ahli kebumian tetap sama, bencana mungkin tidak dapat dihentikan, tetapi risikonya dapat dikurangi melalui ilmu pengetahuan, perencanaan yang baik, dan budaya kesiapsiagaan.


Pesan itu mengemuka dalam Seminar Internasional Refleksi Satu Abad Gempa Padang Panjang 1926 digagas oleh Perkumpulan Jurnalis Keterbukaan Informasi Publik (PJKIP) Padang Panjang yang menghadirkan Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG). Dalam forum ilmiah tersebut, Padang Panjang ditegaskan sebagai salah satu wilayah di Sumatera Barat yang memiliki tingkat ancaman geologi tinggi sehingga membutuhkan pembangunan yang berorientasi pada pengurangan risiko bencana.

Dalam paparannya, tim Badan Geologi menjelaskan bahwa Kota Padang Panjang memiliki karakteristik geologi yang sangat kompleks. Kota yang berada di jantung Pegunungan Bukit Barisan ini berdiri di atas batuan vulkanik muda hasil aktivitas Gunung Marapi, sekaligus berada sangat dekat dengan jalur aktif Sesar Sumatera, khususnya Segmen Sianok–Sumani.


Kondisi tersebut menjadikan Padang Panjang memiliki dua wajah yang berbeda. Di satu sisi, tanah vulkaniknya sangat subur dan mendukung kehidupan masyarakat serta pembangunan daerah. Namun di sisi lain, kondisi geologi itu juga menyimpan potensi ancaman berupa gempa bumi, erupsi gunung api, gerakan tanah, hingga banjir lahar atau galodo.


PVMBG menegaskan bahwa seluruh wilayah Kota Padang Panjang berada pada kawasan rawan gempa bumi dengan potensi guncangan kuat. Fakta ini menunjukkan bahwa aspek mitigasi tidak boleh lagi dipandang sebagai program tambahan, melainkan harus menjadi fondasi utama dalam setiap kebijakan pembangunan daerah.


Refleksi satu abad Gempa Padang Panjang menjadi momentum penting untuk melihat kembali sejarah. Gempa bumi berkekuatan Magnitudo 7,8 yang terjadi pada 28 Juni 1926 merupakan salah satu bencana terbesar yang pernah melanda Sumatera Barat. Ratusan orang kehilangan nyawa, ribuan rumah runtuh, fasilitas umum hancur, dan aktivitas masyarakat lumpuh dalam waktu yang lama.


Tragedi tersebut meninggalkan pelajaran berharga bahwa kerentanan sebuah daerah tidak hanya ditentukan oleh kekuatan gempa, tetapi juga oleh kualitas bangunan, tata ruang, tingkat kesiapsiagaan masyarakat, serta kemampuan pemerintah dalam mengelola risiko bencana.


Hingga kini, aktivitas geologi di sekitar Padang Panjang masih terus berlangsung. Gempa bumi dengan berbagai magnitudo masih beberapa kali terjadi, sementara Gunung Marapi tetap menjadi salah satu gunung api paling aktif di Indonesia. Erupsi yang disertai hujan abu maupun potensi banjir lahar menjadi ancaman yang harus selalu diantisipasi, terutama pada musim hujan.

Menurut PVMBG, pembangunan Kota Padang Panjang harus mengedepankan konsep multi-hazard, yaitu mempertimbangkan seluruh ancaman bencana secara terpadu. Perencanaan pembangunan tidak cukup hanya berfokus pada satu jenis bahaya, melainkan harus mengintegrasikan risiko gempa bumi, aktivitas vulkanik, longsor, dan galodo dalam setiap kebijakan.


Sejumlah langkah strategis direkomendasikan Badan Geologi untuk memperkuat ketangguhan daerah. Di antaranya adalah integrasi peta kawasan rawan bencana ke dalam tata ruang, penerapan standar bangunan tahan gempa pada seluruh fasilitas vital, pembangunan sistem peringatan dini yang terintegrasi, penguatan lereng, pembangunan sabo dam di alur sungai berhulu Gunung Marapi, serta pengembangan kelurahan tangguh bencana.


Tidak kalah penting, peningkatan literasi kebencanaan dinilai menjadi investasi jangka panjang. Pendidikan mengenai mitigasi bencana sejak usia dini, simulasi evakuasi secara rutin, serta pelibatan masyarakat dalam berbagai program kesiapsiagaan diyakini mampu membentuk budaya sadar bencana yang kuat.


Seminar internasional yang digelar di Gedung DPRD Kota Padang Panjang ini tidak hanya menjadi ruang berbagi pengetahuan, tetapi juga menjadi ajang konsolidasi gagasan untuk membangun kota yang lebih aman dan berkelanjutan. Refleksi terhadap bencana satu abad silam menjadi pengingat bahwa sejarah tidak boleh hanya dikenang, tetapi harus menjadi pijakan dalam menyusun kebijakan masa depan.


Dengan dukungan ilmu pengetahuan, teknologi, kolaborasi lintas lembaga, dan partisipasi aktif masyarakat, Padang Panjang memiliki peluang besar menjadi contoh Kota Siaga Bencana di Indonesia. Sebuah kota yang mampu hidup berdampingan dengan dinamika alam, menjadikan pengalaman masa lalu sebagai kekuatan untuk melindungi generasi masa depan.


Semangat itulah yang menjadi pesan utama dari Seminar Internasional Refleksi Satu Abad Gempa Padang Panjang 1926: membangun ketangguhan bukan menunggu bencana datang, tetapi mempersiapkan masyarakat agar mampu menghadapi dan bangkit lebih kuat ketika bencana terjadi.


#GP | Ce


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

JMSI

Pages

SELAMAT DATANG DI SEMOGA ANDA PUAS