Padang(SUMBAR).GP- Kisah inspiratif lahir dari sosok Amran Sutan Sidi Sulaiman, seorang pengusaha asal Sumatera Barat yang membuktikan bahwa kesuksesan dapat diraih dari titik nol, asalkan disertai kerja keras, ketekunan, dan niat untuk berbagi.
Lahir di Padang Panjang pada 20 September 1929, Amran tumbuh dalam lingkungan keluarga sederhana.
Sejak usia muda, ia telah terbiasa bekerja keras, sekaligus memahami pentingnya pendidikan sebagai jalan untuk mengubah nasib.
Langkah awalnya di dunia usaha terbilang sederhana. Ia memulai dengan berjualan minyak tanah secara eceran, kemudian menyewa sebuah toko kecil untuk berdagang kebutuhan harian dan kain di Pasar Mambo—kawasan yang kini dikenal sebagai Koppas Plaza. Dari sinilah fondasi bisnisnya mulai terbentuk.
Di tengah kesibukan berdagang, Amran tidak meninggalkan pendidikan. Ia tercatat sebagai mahasiswa di Universitas Andalas, Fakultas Ekonomi, dan bahkan sempat mengikuti perkuliahan di Fakultas Hukum sebagai pendengar. Semangat belajar ini menjadi salah satu kunci dalam mengembangkan usahanya.
Titik balik kesuksesannya datang pada tahun 1962, saat ia dipercaya menjadi agen semen. Tak lama kemudian, ia merambah bisnis distribusi garam dan berhasil meraih kesuksesan besar hingga dikenal dengan julukan “Raja Garam”. Dari sektor ini, usahanya berkembang pesat ke berbagai bidang, seperti properti, transportasi, dan distribusi barang.
Namun, bagi Amran, kesuksesan tidak semata diukur dari kekayaan. Bersama sang istri, Hj. Maizarnis, ia mendirikan Yayasan Pendidikan Baiturrahmah pada akhir 1970-an. Lembaga ini tumbuh dari tingkat taman kanak-kanak hingga akhirnya melahirkan Universitas Baiturrahmah pada tahun 1994.
Tak hanya di bidang pendidikan, kontribusinya juga nyata dalam sektor kesehatan melalui pendirian RSI Siti Rahmah. Semua ini berangkat dari satu tujuan, menghadirkan akses pendidikan dan layanan kesehatan berkualitas bagi masyarakat Sumatera Barat, dengan berlandaskan nilai-nilai Islam.
Amran Sutan Sidi Sulaiman wafat pada 6 September 2021 di RSI Siti Rahmah dalam usia lebih dari 90 tahun. Ia dimakamkan di kompleks Masjid Baiturrahmah, salah satu warisan yang ia bangun semasa hidup.
Perjuangan dan nilai-nilai yang ia tanamkan kini diteruskan oleh keluarga, termasuk putranya, Fadly Amran, yang kerap mengenang sang ayah sebagai figur yang mampu menyeimbangkan kesuksesan bisnis dengan amal jariyah.
Hingga kini, Yayasan Baiturrahmah terus berkembang sebagai salah satu pilar pendidikan swasta di Sumatera Barat.
Kisah hidup Amran menjadi pengingat bahwa kesuksesan sejati bukan hanya tentang seberapa besar harta yang dikumpulkan, tetapi sejauh mana harta itu memberi manfaat bagi banyak orang.
#GP | ***






Tidak ada komentar:
Posting Komentar