Radikalisme Via Medsos Ancam Generasi Milenial - Go Parlement | Portal Berita

Breaking

DPD RI

Ketua DPD RI, AA LaNyalla Mahmud Mattalitti & Ketua Komite 1 DPD RI, Pak Fachrul Razi, Mengucapak "Salam Idul Fitri 1 Syawal 1442 H. Minal Aidin Aalfaizin Mohon Maaf Lahir dan Batin"

Radikalisme Via Medsos Ancam Generasi Milenial

Minggu, April 11, 2021



JAKARTA.GP- Sejumlah serangan teror yang belakangan terjadi di negeri ini, terindikasi melibatkan generasi milenial. Berdasarkan hasil pengamatan terhadap data-data yang ada, dapat dilihat bahwa serangan  di Gereja Katedral Makassar dan penembakan di Mabes Polri dilakukan oleh kalangan generasi milenial.


Aksi bom bunuh diri Gereja Katedral Makasar dilakukan oleh pasangan suami istri berinisial L dan istrinya YSR, pada Minggu (28/3).


Keduanya disebut masih berusia sekitar 26 tahun. Tiga hari kemudian, seorang perempuan melakukan aksi penembakan didepan Mabes Polri. Pelaku yang berinsial ZA, berusia 25 tahun dan  terpapar ideologi ISIS melalui media sosial.


Menyikapi fenomena tersebut, mantan narapidana terorisme (napiter), Haris Amir Falah mengatakan bahwa, telah banyak anak muda terpapar radikalisme dan terorisme dari media sosial. Kecanggihan teknologi telah mempermudah para kelompok maupun jaringan terorisme dalam merekrut anggota.


"Sekarang itu karena teknologi sudah canggih, orang itu bisa direkrut tanpa bertemu muka. Mereka bisa aktif berdialog dibina lewat media sosial," ujar Haris seperti dikutip di medsos kemarin.


Lebih lanjut, Haris mengatakan bahwa, instrumen media sosial membuat para pelaku lebih mudah dibaiat tanpa harus bertemu langsung. Berbeda dengan zamannya yang kebanyakan perekrutan dilakukan dengan menyusupi diskusi-diskusi pengajian


"Sistem baiat sekarang, kan, tidak harus bertemu. Mereka bisa di kamar sendirian kemudian berbaiat, kemudian sudah terikat. Jadi bisa sekali didoktrin tanpa tatap muka," tambah Haris.


Ditempat terpisah, Deputi VII BIN, Dr. Wawan Purwanto mengatakan bahwa, ada beberapa alasan kenapa kelompok milenial menjadi target utama. Pertama, kelompok milenial seringkali tidak banyak yang berpikir kritis. Hal itu membuat kelompok milenial kerap menelan mentah-mentah ajaran yang dibuat dan disasar oleh kelompok teror. Kedua, kalangan milenial masih memiliki keberanian yang lebih ketimbang kalangan lainnya. 


"Juga tidak banyak tanggungan. Masih lebih emosional dan lebih berpikir pragmatis, apalagi ada iming-iming masuk surga dan lain-lain," ujar Wawan.


Dirinya juga meminta kepada kalangan milenial, untuk terus melakukan konfirmasi dan mengecek kembali ajaran-ajaran yang bernuansa radikal. Selain itu, para orang tua diminta untuk terus mengontrol anak-anaknya, terutama yang masuk dalam usia milenial. Termasuk, memantau buku bacaan yang sedang mereka baca.


"Oleh karena itu kita selalu dorong, bacaan-bacaan kaum milenial itu dikontrol oleh orang tuanya. Karena hanya orang tuanya yang paling paham," tambah Wawan. 


#GP | Red.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pages

SELAMAT DATANG DI SEMOGA ANDA PUAS