Kota Padang Panjang Bergelombang Semangat: Wako Hendri Arnis Hidupkan Kembali Pacu Kuda, Warisan Adat Dan Ekonomi Rakyat - Go Parlement | Portal Berita

Kota Padang Panjang Bergelombang Semangat: Wako Hendri Arnis Hidupkan Kembali Pacu Kuda, Warisan Adat Dan Ekonomi Rakyat

Senin, Oktober 27, 2025


Padang Panjang(SUMBAR).GP- Setelah tiga tahun vakum, suara derap kuda kembali menggema di Gelanggang Pacuan Kuda Bancalaweh. Minggu (26/10/2025), ribuan masyarakat tumpah ruah, menyambut bergulirnya Pacu Kuda Gubernur Cup III Alek Anak Nagari Pabasko. Di balik kemeriahan itu, berdiri sosok Wali Kota Padang Panjang, Hendri Arnis, yang kembali membuktikan komitmennya menjaga adat, budaya, dan ekonomi nagari tetap bergelora.


Dari pagi hingga sore, Gelanggang Bancalaweh berubah menjadi lautan manusia. Wali Kota Hendri memimpin arak-arakan bersama niniak mamak, tokoh adat, dan masyarakat dari Simpang Balai-Balai menuju gelanggang pacuan. Dentuman Tambua Tasa dan semangat alek nagari menandai kebangkitan tradisi yang telah lama dirindukan.


Bagi Hendri Arnis, Pacu Kuda Pabasko bukan sekadar perlombaan, melainkan perwujudan jati diri anak nagari. “Event pacu kuda ini bukan hanya tentang adu cepat kuda dan joki, tapi tentang bagaimana kita menjaga warisan adat, memperkuat silaturahmi, dan menggerakkan ekonomi masyarakat,” ujarnya dalam sambutan pembukaan yang disambut tepuk tangan meriah.


Ia menegaskan, pemerintah daerah akan memperjuangkan agar alek nagari ini menjadi agenda tahunan tetap, bahkan berskala nasional. “Kita akan usulkan Dana Insentif Daerah agar Bancalaweh menjadi gelanggang representatif Sumatera Barat,” tegasnya penuh keyakinan.



Langkah itu bukan tanpa alasan. Di bawah kepemimpinan Hendri Arnis, Padang Panjang bertransformasi menjadi kota kecil dengan visi besar. Tradisi dilestarikan, ekonomi digerakkan, dan masyarakat dilibatkan secara langsung dalam setiap momentum pembangunan.


Hendri memandang Gelanggang Bancalaweh tidak hanya sebagai tempat pacu, tetapi pusat sejarah dan kebanggaan Minangkabau. Kawasan ini dikenal sebagai latar kisah klasik “Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck” karya Buya Hamka, di mana cinta Zainuddin dan Hayati bermula di hamparan kapur Bancalaweh.


“Bancalaweh adalah saksi sejarah. Ia bukan sekadar tanah lapang, tapi bagian dari identitas budaya yang harus dijaga dan dikembangkan. Kita ingin menjadikannya kawasan wisata budaya dan olahraga,” ungkapnya.


Untuk itu, Hendri bersama DPRD berkomitmen menuntaskan pengesahan RTRW yang mengatur pengembangan kawasan Bancalaweh. Rencana tersebut mencakup penataan area batu kapur legendaris dan pembangunan infrastruktur pendukung kegiatan pariwisata dan olahraga tradisional.



“Kita ingin geliat ekonomi selama masa pemerintahan Hendri–Allex benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat,” tegasnya, meneguhkan arah pembangunan yang berpihak kepada rakyat.


Kebijakan inklusif itu juga tampak dalam penyediaan fasilitas berjualan gratis bagi 1.877 pelaku UMKM selama alek berlangsung. Pemerintah kota ingin memastikan, setiap kegiatan budaya berdampak langsung pada perputaran ekonomi warga.


“Semua difasilitasi tanpa biaya agar masyarakat benar-benar bisa menikmati alek ini dan ikut merasakan manfaat ekonominya,” ujar Ketua Pelaksana, Delius Putra, menegaskan kebijakan yang digagas Pemko Padang Panjang.


Sementara itu, sorotan publik juga tertuju pada kekompakan masyarakat Pabasko. Wali Kota Hendri menilai, semangat kolaboratif antara Padang Panjang, Batipuah, dan X Koto merupakan kekuatan sosial yang luar biasa.



“Meski berbeda administrasi, masyarakat Pabasko kompak dan satu hati. Dari sinilah lahir kegiatan sebesar ini,” ucapnya.


Kebersamaan itu pula yang dirasakan Niniak Mamak se-Pabasko, seperti diungkapkan Datuak Kupiah. Ia menyampaikan rasa bangga dan terima kasih atas kerja keras anak nagari serta dukungan pemerintah daerah.


“Atas nama niniak mamak, kami berterima kasih kepada Wali Kota Hendri yang telah memberi ruang bagi kami untuk menghidupkan kembali alek besar ini,” ujarnya dengan mata berkaca.


Datuak Kupiah juga mengingatkan makna sejarah gelanggang tersebut. “Dari sinilah dulu semangat kebersamaan anak nagari tumbuh. Hari ini, semangat itu hidup kembali,” katanya penuh haru.



Hadir pula Gubernur Sumatera Barat, Mahyeldi, yang secara resmi membuka kegiatan. Ia memuji kepemimpinan Hendri Arnis yang berhasil menghadirkan alek budaya berskala provinsi di Padang Panjang.


“Olahraga pacu kuda ini bukan hanya tradisi, tapi bernilai ibadah sebagaimana dianjurkan Rasulullah SAW. Pemerintah Provinsi akan terus mendukung kegiatan yang membangkitkan ekonomi dan pariwisata seperti ini,” ungkap Gubernur.


Dukungan juga datang dari Anggota DPD RI, Irman Gusman, yang siap membantu pengembangan fasilitas pacuan. “Dengan jejaring yang kita miliki, kami siap mendukung peningkatan fasilitas agar Bancalaweh jadi gelanggang nasional,” ujarnya.


Momentum ini juga menjadi ruang pembibitan kuda-kuda unggulan Sumatera Barat. Sebanyak 59 ekor kuda pacu dan bendi turun di 17 race, diikuti peserta dari Sumatera Utara, Aceh, hingga berbagai kabupaten/kota di Sumbar.



Suasana gelanggang semakin memuncak ketika kuda Sir Orbit, milik Wali Kota Bukittinggi Ramlan Nurmantias, keluar sebagai juara di kelas bergengsi Derby Divisi I – 1.400 meter. Penonton bersorak, menandai puncak kemeriahan alek anak nagari.


Sorak-sorai itu seolah membawa masyarakat pada nostalgia masa keemasan “alek pacu kudo” yang dulu menjadi denyut kehidupan sosial Minangkabau. Di sinilah, tradisi dan ekonomi kembali berpadu di bawah kepemimpinan yang visioner.


Wali Kota Hendri menutup kegiatan dengan pesan menyentuh. “Selamat bertanding untuk semua joki dan pemilik kuda. Siapapun pemenangnya, kalian semua juara di hati kami,” ucapnya.


Ia juga mengajak masyarakat terus menjaga tradisi. “Selama kita memelihara kebersamaan ini, Padang Panjang akan selalu hidup — bukan hanya sebagai kota pendidikan, tapi juga kota budaya dan persaudaraan,” katanya.



Keberhasilan ini menjadi bukti nyata gaya kepemimpinan Hendri Arnis yang menggabungkan pendekatan budaya, ekonomi, dan kebersamaan. Dalam setiap langkahnya, ia menempatkan masyarakat sebagai pusat pembangunan.


Dengan semangat alek nagari yang membara, Pacu Kuda Pabasko 2025 menjadi lebih dari sekadar olahraga. Ia adalah simbol persatuan, kebangkitan ekonomi, dan kebanggaan Minangkabau.


Dari Bancalaweh, denyut tradisi itu kembali hidup. Dan di tengah riuh sorakan rakyat, nama Hendri Arnis tercatat sebagai pemimpin yang menghidupkan kembali roh budaya dan ekonomi nagari — warisan untuk Padang Panjang yang terus berlari menuju kemajuan.


#GP | Red 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

JMSI

Pages

SELAMAT DATANG DI SEMOGA ANDA PUAS